Senin, 12 Oktober 2015

Kampung Naga

Kampung Naga, secuil keindahan alam dan budaya Indonesia

Minggu, 4 Oktober 2015. Sekitar pukul 07.08 WIB, sepeda motor yang kami tumpangi melaju kencang diiringi udara sejuk pagi itu. Kira-kira satu jam kemudian kami sampai di tempat tujuan. Ku akui, sejauh ini inilah perjalanan terjauh yang pernah kami tempuh bersama.

Setibanya di sana, kami disambut dengan ucapan selamat datang khas masyarakat Sunda “wilujeng sumping” yang terpampang di sebuah papan besar yang terbuat dari kayu. Unik, artistik. Cantik.
Entahlah, kata apa lagi yang bisa menggambarkannya. Bisakah kau membayangkan itu karena aku tak pandai berkata-kata?

Karena bagiku ini adalah yang pertama kali, maka begitu samapi disana rasanya aku tak mudah untuk percaya. Bahagia rasanya bisa menapakkan kaki di tanah setelah melewati perjalanan jauh. Ku gerakkan badanku seperti orang melakukan pemanasan sebelum memulai berolahraga. Ah… punggungku. Padahal usiaku baru sekian. “Jangan senang dulu, perjalanan kita masih jauh,” tiba-tiba suara itu mengagetkanku.

Kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Di depan sana, ada tangga menurun dengan jumlah yang cukup membuatku menahan napas barang satu dua detik. Sungguh, perjalanan kami masih jauh.

Karena untuk setiap tujuan ada perjalanan yang harus dilalui. Dan dalam setiap perjalanan selalu dibutuhkan perjuangan, kesabaran, dan keyakinan.

Keindahan yang tersembunyi di bawah lembah


Tangga menuju Kampung Naga

Kampung Naga, bukan perkampungan biasa.











Selasa, 06 Oktober 2015

Memilih

Memilih itu,
bukan hanya tentang rasa
ia harus disertai daya dan upaya

Memilih itu,
bukan hanya soal keinginan
ia harus dibarengi dengan keseriusan

Memilih itu,
bukan hanya mengenai kemauan
ia harus ditemani dengan kemampuan


Karena memilih bukan sekadar memilih.